![]() |
Foto: Ketua PA GMNI Bima Ashar S. Yaman. |
Kota Bima, TalkingNEWS -- Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Bima, Rabu (23/3/22) menggelar Dies Natalis ke 68 tahun di Cafe Sampana Kelurahan Penatoi Kecamatan Mpunda Kota Bima.
Peringatan kelahiran organisasi pergerakan berlambang bintang dan banteng tersebut berlangsung meriah, yang dihadiri oleh ratusan kader GMNI yang tersebar disemua perguruan tinggi Bima dan Kota Bima.
Dalam orasinya Ketua PA GMNI Bima Ashar S. Yaman menyerukan kepada semua kader Marhaenis Bima dan Dompu agar menjadi pelopor dan garda depan dalam melawan radikalisme dan intoleransi yang sengaja disebar oleh kelompok- kelompok yang ingin memecah belah kerukunan hidup masyarakat dana Mbojo.
"Sebagai sebuah tatanan kolektif masyarakat kita adalah masyarakat homogen, masyarakat gotong royong, masyarakat religius, masyarakat yang toleran, masyarakat yang hidupnya selalu mengutamakan hati nurani, setidaknya ini bukan ucapan saya hari ini, tetapi jati diri masyarakat Bima yang sudah terbentuk berabad-abad lamanya".
"Ia benar, nenek moyang kita sangat religius, nenek moyang kita sangat santun dan bersahaja, nenek moyang kita sangat menaruh menghormati cinta kasih kepada sesama manusia,ini mental yang wajib dijaga, dirawat dan dilestarikan, agar kalian tumbuh sebagai generasi Marhaenis yang dibakar oleh spirit cinta kasih yang terus menyala-nyala didalam dadamu," tegasnya.
Ia menjelaskan, marhaenisme sebagai Idiologi perjuangan, itu rambu-rambu, itu ahlak yang wajib terpatri didalam hati sanubari setiap penganut ajaran dan pengikut Soekarno , wajib dinyalakan, digelorakan, dijaga agar tidak padam, bagaimana kita bicara sosialisme indonesia sebagai tujuan Marhaenisme jika ajaran dan kelompok -kelompok yang terus menyebarkan radikalisme dan intoleransi kita biarkan bebas benarasi di media sosial tanpa kita bantah, Tampa kita bertarung narasi, generasi Marhaenis Bima kudu ambil peran seluas-luasnya dalam melawan gerakan-gerakan jenis ini.
"Kita ini besar, jangan merasa kecil, kita ini hebat jangan merasa minder, karena kita dilahirkan dari pergolakan demi pergolakan, kita tumbuh dari satu tragedi ke tragedi yang lain, kita digembleng dalam gelombang politik dan ekonomi yang dahsyat dalam sejarah perjalanan bangsa ini, Melawan ajaran dan semua doktrin yang ingin merubah Pancasila sebagai dasar negara adalah bukti bahwa kamu bukan kader Marhaenis Sontoloyo," Tutupnya. (Red)