'Mbolo Weki' Keluarga Dompu di Mataram, Konsolidasi Akbar Teguhkan Identitas Suku -->
Cari Berita

iklan 970x90 px

'Mbolo Weki' Keluarga Dompu di Mataram, Konsolidasi Akbar Teguhkan Identitas Suku

TalkingNewsNTB.com
04 Februari 2026



Mataram, TalkingNewsNTB.Com – Gelombang kebangkitan identitas budaya Dompu memasuki babak baru. Forum besar bertajuk Mbolo Weki Dou Dompu akan segera digelar di Kota Mataram sebagai momentum konsolidasi akbar warga Dompu di perantauan untuk meneguhkan kembali eksistensi, sejarah, dan jati diri Suku Dompu.

Forum ini bukan sekadar seminar, tetapi menjadi ruang temu gagasan, konsolidasi intelektual, serta forum strategis untuk membahas masa depan entitas budaya Dompu di tengah dinamika sosial dan geopolitik kebudayaan di Nusa Tenggara Barat.

Mengusung tema “Meneguhkan Identitas: Menelusuri Jejak Sejarah dan Eksistensi Budaya Suku Dompu”, kegiatan ini akan dihadiri tokoh adat dan budayawan Dompu, akademisi, sejarawan dan peneliti, komunitas organisasi mahasiswa, perwakilan Pemerintah Kabupaten Dompu, Pemerintah Provinsi NTB, serta Rukun Keluarga Dompu di Mataram.


Acara diselenggarakan oleh Rukun Keluarga Dompu (RKD) Mataram bersama Yayasan Kesultanan Dompu. Panitia menyebut forum ini sebagai bagian dari gerakan kultural untuk memperjelas penyebutan, pemahaman, dan pengakuan terhadap Suku Dompu sebagai entitas yang memiliki sejarah dan identitas tersendiri.


Ketua Panitia, Prof. Dr. Ir. H. A. Farid Hemon, MSc, Guru Besar Universitas Mataram, menegaskan bahwa forum ini lahir dari kesadaran historis dan akademik bahwa Dompu memiliki akar sejarah panjang yang tidak bisa direduksi.


“Dompu bukan sekadar wilayah administratif. Dompu memiliki sejarah kerajaan sejak abad ke-12, tercatat dalam Sumpah Palapa Gajah Mada tahun 1336 dan Nagarakretagama tahun 1365. Ini bukti historis bahwa Dompu memiliki eksistensi yang kuat dan mandiri,” tegas Prof. Farid.


Ia menjelaskan, identitas Suku Dompu dibangun dari kesamaan bahasa, nilai sosial, sistem budaya, serta warisan kearifan lokal seperti falsafah “Nggahi Rawi Pahu” yang menekankan keselarasan antara ucapan dan tindakan.


Prof. Farid juga menyoroti sistem pertanian tradisional Dompu yang berkembang sejak abad ke-14, keberadaan lumbung padi Uma Jompa, serta sistem kepemimpinan lokal para Ncuhi sebagai fondasi sosial masyarakat Dompu.


“Warisan ini bukan romantisme masa lalu, tetapi fondasi karakter masyarakat Dompu hari ini,” ujarnya.


Sementara itu, Sekretaris RKD Mataram, Yeyen Seprian Rachmat, menegaskan forum ini merupakan konsolidasi besar warga Dompu di Mataram untuk merumuskan arah penguatan identitas budaya.

“Ini bukan gerakan memisahkan diri, bukan pula membangun sekat budaya. Justru ini adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah dan kontribusi Dompu dalam mozaik kebudayaan NTB dan Indonesia,” jelas Yeyen yang juga menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Kesultanan Dompu.


Forum ini juga menjadi bagian dari rangkaian agenda peneguhan entitas Suku Dompu secara ilmiah, kultural, dan sosial yang tengah dirumuskan oleh Tim Persiapan NGGUSU WARU.


Peneguhan tersebut diharapkan menjadi pijakan akademik dan kebudayaan untuk mempertegas identitas Suku Dompu sebagai entitas yang telah lama hidup dan berkontribusi dalam sejarah Nusantara.


Semangat forum ini selaras dengan ajakan Bupati Dompu, Bambang Firdaus, yang sebelumnya menyerukan agar masyarakat bangga terhadap bahasa dan jati diri Dompu.


“Kita punya bahasa Dompu, kita punya asal usul yang jelas. Kita harus bangga dengan daerah kita. Dompu hebat, Dompu bisa dan Dompu maju,” tegas Bupati dalam sebuah video resmi.


Ajakan tersebut mendapat dukungan luas dari tokoh adat, akademisi, hingga tokoh perempuan Dompu. Ketua Yayasan Kesultanan Dompu, H. Syaiful Islam, menilai momentum ini sangat urgen.


“Selama ini banyak yang belum memahami bahwa Dompu memiliki etnis sendiri. Identitas ini harus ditegaskan secara ilmiah dan sosial,” katanya.


Tokoh perempuan Dompu, Hj. Hartina (Paca Tari), menilai penguatan identitas bukan ancaman persatuan, melainkan upaya memperkaya kebudayaan nasional.


“Dompu bukan bayang-bayang. Dompu punya kearifan lokal yang khas dan harus dikenali,” ujarnya.


Forum Mbolo Weki Dou Dompu diprediksi menjadi salah satu pertemuan budaya terbesar warga Dompu di perantauan dalam beberapa tahun terakhir. Selain membahas sejarah dan budaya, forum ini juga akan mengangkat isu strategis seperti penguatan literasi sejarah, implementasi Muatan Lokal Dompu di sekolah, hingga posisi entitas budaya Dompu dalam dinamika kebijakan daerah.


Gerakan ini menegaskan pesan kuat bahwa Dompu bukan sekadar nama daerah, melainkan identitas yang hidup, berakar, dan berdaulat secara budaya. Di tengah arus globalisasi dan homogenisasi budaya, konsolidasi ini menjadi pengingat bahwa jati diri adalah fondasi kemajuan. (Arief)