Bima, TalkingNewsNTB.Com – Dalam rangka memperingati 30 tahun peristiwa Kelabu 27 Juli 1996 atau yang dikenal dengan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli), Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Bima menggelar doa bersama, zikir dan renungan malam di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bima, Minggu dini hari (27/7/2026).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 00:00 Wita itu dihadiri jajaran pengurus DPC, anggota Fraksi PDI Perjuangan, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader, serta para simpatisan.
Suasana berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang demokrasi yang menjadi korban dalam peristiwa Kudatuli.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bima, Nurdin Amin, SH, mengatakan bahwa peringatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk mengenang sejarah perjuangan demokrasi yang pernah dilalui bangsa Indonesia.
Ia mengungkapkan, tragedi Kudatuli merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan politik nasional. Saat itu, kehadiran Megawati Soekarnoputri sebagai figur yang mendapat dukungan luas dari kader dan masyarakat dianggap mengancam kekuasaan rezim Orde Baru.
"Peristiwa Kudatuli menjadi bagian dari sejarah perjuangan demokrasi di Indonesia. Saat itu, kehadiran Ibu Megawati dinilai mengancam pemerintahan Orde Baru sehingga berbagai upaya dilakukan untuk menghalangi kepemimpinan beliau," ujar Nurdin Amin, Senin (27/7/26).
Om Digon sapaan akrab politisi senior ini juga menjelaskan, bahwa dalam dinamika politik saat itu, Megawati terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) melalui mekanisme organisasi. Namun, kepemimpinan tersebut tidak diinginkan oleh penguasa pada masa itu, sehingga memicu konflik internal yang berujung pada penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, pada 27 Juli 1996.
"Peristiwa itu menjadi catatan kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia. Banyak kader dan masyarakat yang menjadi korban akibat tindakan represif yang terjadi saat itu. Dari tragedi tersebut lahir semangat perjuangan untuk menegakkan demokrasi dan memperjuangkan hak-hak rakyat," kata Legislator yang dikenal vocal dalam menyuarakan kepentingan rakyat itu.
Ia menegaskan, PDI Perjuangan akan terus menjaga nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu partai. Semangat pengorbanan para kader yang memperjuangkan demokrasi, kata dia, harus menjadi pelajaran bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah bangsa.
Melalui doa, zikir dan renungan malam tersebut, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bima berharap seluruh kader semakin memperkuat persatuan, menjaga semangat gotong royong, serta terus mengawal demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
"Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan demokrasi tidak diraih dengan mudah. Karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat demokrasi agar tetap berjalan sesuai cita-cita para pendiri bangsa," pungkasnya. (Red)


