Bima, TalkingNewsNTB.Com — Pembangunan Pengendali Banjir (bronjong) Sungai di Desa Mpuri, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat, terutama warga yang bermukim di sekitar aliran sungai dan para petani yang memiliki lahan persawahan di bibir sungai.
Proyek yang disebut sebagai bagian dari program strategis nasional tersebut didukung anggaran APBN Tahun 2026 dengan nilai sekitar Rp14,4 miliar. Pekerjaan proyek dilaksanakan oleh Tantui Enam Konstruksi.
Sejumlah warga mengaku bersyukur dengan adanya pembangunan bronjong dan tanggul. Mereka berharap keberadaan bangunan pengendali banjir tersebut dapat mengurangi risiko luapan air sungai yang selama ini mengancam permukiman dan lahan pertanian ketika musim hujan tiba.
Salah seorang warga Desa Mpuri, Ahmad, mengatakan, keberadaan bronjong membuat masyarakat lebih tenang menghadapi musim penghujan. Kata dia, pemasangan bronjong dan tanggul di sepanjang aliran sungai diharapkan mampu menahan derasnya arus air sehingga tidak mudah meluap ke kawasan permukiman.
“Alhamdulillah, ke depan kalau banjir datang kami tidak lagi terlalu was-was, karena sudah ada bronjong dan tanggul yang dipasang. Kami berharap bangunan ini benar-benar mampu menahan arus air ketika debit sungai meningkat,” kata Ahmad saat diwawancarai, Rabu (26/8/2026).
Ia menilai pembangunan tersebut menjadi salah satu upaya penting dalam memberikan perlindungan kepada warga yang tinggal di sekitar sungai. Selain mencegah luapan air, bronjong juga dinilai dapat mengurangi risiko pengikisan tanah di sepanjang bantaran sungai.
Hal senada disampaikan Abdullah, salah seorang petani yang lahan persawahannya berada di sekitar area pemasangan bronjong. Ia mengaku pembangunan tersebut memberikan harapan baru bagi petani karena bibir persawahan mereka selama ini cukup rentan terkikis ketika arus sungai deras.
Sebab, lanjut Abdullah, banjir tidak hanya berpotensi menggerus tanah persawahan, tetapi juga dapat merendam tanaman yang pada akhirnya menyebabkan kerugian bagi petani.
“Mudah-mudahan dengan adanya pemasangan bronjong dan tanggul ini, bibir sawah saya tidak lagi terkikis oleh banjir. Tentunya kami sangat bersyukur, sebab ketika banjir datang, bukan hanya sawah yang terkikis terbawa arus, tetapi tanaman kami juga ikut terendam,” ungkapnya.
Abdullah berharap konstruksi pengendali banjir tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang dan terus dilakukan pemeliharaan setelah pekerjaan selesai. Ia juga berharap pembangunan serupa dapat dilanjutkan pada titik-titik lain yang masih rawan tergerus arus sungai.
Terpisah, Sekretaris Desa Mpuri, Iwan, mewakili pemerintah desa, mengapresiasi pembangunan bronjong tersebut. Ia mengatakan keberadaan proyek tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar sungai dan para petani, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan bagi masyarakat lokal.
Menurut Iwan, keterlibatan pemuda desa dalam mendukung kebutuhan proyek menjadi salah satu dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat selama pekerjaan berlangsung. Salah satunya melalui kesempatan menyuplai material yang dibutuhkan dalam pembangunan.
“Paling tidak, para pemuda desa kita bisa mendapatkan asas pemberdayaan dari pihak pelaksana proyek dengan diberikan ruang untuk menyuplai bahan material seperti batu. Ini menjadi dampak positif lainnya yang dirasakan masyarakat dari adanya proyek tersebut,” terang Iwan.
Ia berharap pelaksanaan proyek dapat berjalan sesuai spesifikasi dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Pemerintah desa juga berharap hasil pembangunan dapat menjadi infrastruktur yang mampu mengurangi ancaman banjir dan abrasi sungai terhadap permukiman serta lahan pertanian.
Sementara itu, Penanggung Jawab Pelaksana Proyek, Devid, menjelaskan pembangunan bronjong dan tanggul tersebut memiliki panjang keseluruhan sekitar satu kilometer.
Dari total panjang tersebut, sekitar 450 meter berada di kawasan perkampungan, sedangkan sisanya berada di area persawahan masyarakat.
“Panjang pemasangan sekitar satu kilometer. Pembagiannya kurang lebih 450 meter berada di wilayah perkampungan dan sisanya berada di area persawahan,” jelas Devid.
Ia menyebutkan bahwa progres pekerjaan hingga saat ini telah mencapai sekitar 65 persen. Pelaksanaan pekerjaan terus dikebut agar dapat diselesaikan sesuai target yang telah ditetapkan.
Berdasarkan jadwal kalender kerja yang tercantum pada papan informasi proyek, masa pelaksanaan pekerjaan berlangsung selama 240 hari dan dijadwalkan berakhir pada Desember 2026.
Namun, pihak pelaksana menargetkan pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat, yakni pada Oktober 2026, dengan tetap memperhatikan kualitas pekerjaan dan ketentuan teknis yang telah ditetapkan.
“Berdasarkan kalender kerja, masa pelaksanaan 240 hari dan berakhir pada Desember. Tetapi kami menargetkan pekerjaan bisa selesai pada Oktober 2026,” ujarnya.
Devid menambahkan, untuk material utama berupa kawat bronjong, pihaknya memesannya langsung dari pabrik yang memiliki standar produksi. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan material yang digunakan memenuhi kebutuhan teknis pembangunan.
"Kalau kawat bronjong, kita pabrikan semua," pungkasnya. (Red)


